|
dengan
METODE
SELING
(Sentra
dan Lingkaran)

Sebuah
pendekatan KBM untuk anak usia dini yang direkomendasikan oleh :
DIREKTORAT
PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
LEMBAGA
PENDIDIKAN ANAK USIA DINI MELATI BANDUNG
JL. PENGLIMA
SUDIRMAN GG I BANDUNG TULUNGAGUNG 0355 533671
Tata Tertib Peserta Magang dan
Pelatihan
Metode SELING (sentra dan lingkaran)
Di
LEMBAGA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
MELATI BANDUNG
Umum
1.
Mengisi daftar
hadir yang disediakan oleh panitia
2.
Hadir dalam ruangan
sesuai jadwal yang telah ditentukan
3.
Menjaga dan
memelihara kebersihan, ketertiban, kenyamanan lingkungan magang dan pelatihan
4.
Selalu
menggunakan tanda pengenal selama berada di lingkungan magang dan pelatihan
5.
Tidak merokok
selama mengikuti kegiatan magang dan pelatihan
Dalam
ruangan
1.
Menempati ruang
duduk yang telah ditetapkan
2.
Menjaga
kebersihan dan ketertiban ruangan
3.
Menjaga dan
memelihara perlengkapan dalam ruangan
4.
HP dapat dihidupkan hanya di luar ruangan dan
bukan pada jam magang dan pelatihan
5.
Tidak keluar
masuk ruangan
6.
Tidak makan dan
minum dalam ruangan saat pelaksanaan magang dan pelatihan kecuali atas ijin
penyelenggara
Saat
obsevasi
1.
Mengikuti
kegiatan observasi sesuai dengan kelompoknya
dan tempat yang ditentukan untuk di observasi
2.
Tidak melakukan
interaksi atau membantu anak untuk melakukan sesuatu
3.
Bila anak
menyapa boleh menjawab dengan sayang dan sopan
4.
Tidak ikut
bergabung dengan kelompok anak
5.
Tidak mengajak
guru yang sedang mengajar berbicara atau bertanya
6.
Tidak mengambil
gambar (pemotretan) saat anak sedang belajar kecuali ada ijin
7.
Bila ada
sesuatu yang ganjil atau kurang jelas segera dicatat dan ditanyakan pada saat
diskusi
Saat simulasi
1.
Mengikuti
kegiatan simulasi/micro teaching sesuai dengan jadwal yang sudah dibuat
2.
Mengikuti kegiatan
pendampingan pengajaran
Pakaian
1.
Peserta
berpakaian bebas dan sopan (tidak mengenakan kaos)
2.
Peserta
laki-laki dan perempuan menggunakan kaos kaki
3.
Sepatu dilepas
diletakkan ditempat yang sudah disediakan
TERIMA KASIH ATAS KERJASAMANYA
APAKAH SELING/BCCT ITU
|
SELING (SENTRA DAN LINGKARAN)/BCCT
Sentra dan lingkaran adalah sebuah metode pengajaran yang
menempatkan siswa pada posisi yang proposional. Dunia anak adalah dunia
bermain, maka selayaknyalah konsep pendidikan untuk anak usia dini dirancang
dalam bentuk bermain. Intinya bermain adalah belajar, dan belajar adalah
bermain.
Sekilas tentang metode SELING/BCCT
·
Suatu metode atau pendekatan dalam
penyelenggaraann Pendidikan Anak Usia Dini yang dikembangkan berdasarkan
hasil kajian teoritik dan empiric
·
Nama asli metode ini adalah BCCT
(Beyond Center and Circle Time)
·
Metode ini di Indonesia
dipopulerkan dengan istilah SELING ( Sentra dan Lingkaran)
·
Metode SELING merupakan
pengembangan dari metode Montessori , High Scope dan Reggio Emilio
·
Metode SELING dikembangkan oleh
Creative Center for Chilhood Research and training (CCCRT) Florida, USA dan
dilaksanakan di Creative Pre School Florida, USA selama lebih dari 30 tahun,
baik untuk anak normal maupun untuk anak kebutuhan khusus
BAGAIMANA PENERAPANNYA?
·
Metode SELING dirancang dalam
bentuk sentra-sentra. Misal sentra alam, sentra persiapan, sentra seni dan
olah raga, sentra agama, sentra peran makro, sentra peran mikro, sentra
balok, dan lain-lain.
·
Setiap guru bertanggung pada 7 –
10 murid saja dengan moving class sesuai dengan sentra gilirannya
·
Metode SELING ditujukan untuk
merangsang seluruh aspek kecerdasan anak (Multiple intelligences)
·
Metode SELING memandang bermain
sebagai wahana yang paling tepat dan satu-satunya wahana yang paling tepat
diantara metode-metode yang ada, karena disamping menyenangkan, bermain dalam
setting pendidikan dapat menjadi wahana untuk berfikir aktif, kreatif dan
bertanggung jawab.
|
Untuk menerapkan metode ini seorang guru hendaknya mengikuti
pijakan-pijakan guna membentuk keberaturan antara bermain dan belajar.
Berikut ini adalah pijakan-pijakan yang harus diikuti :
1.
Pijakan Lingkungan
Guru menata
lingkungan yang disesuaikan dengan densitas dan intensitas
2.
Pijakan Sebelum bermain
·
Guru meminta para siswa untuk membentuk
lingkaran
·
Guru diantara para siswa sambil
bernyanyi
·
Guru meminta siswa untuk duduk
melingkar
·
Guru meminta para siswa untuk
berdoa bersama
·
Guru menanyakan kesiapan para
siswa mendengarkan cerita atau memasuki sentra
·
Guru memulai bercerita menggunakan
media yang sesuai dengan tema
·
Guru menginformasikan jenis mainan
yang ada dan menyampaikan aturan bermain.guru meminta siswa untuk masuk ke
area sentra.
3.
Pijakan saat bermain
·
Guru mempersiapkan catatan
perkembangan siswa
·
Guru mencatat perilaku, kemampuan
dan celetukan siswa
·
Guru membantu siswa jika
dibutuhkan
·
Guru mengingatkan siswa apabila
lupa atau melanggar aturan
4.
Pijakan Setelah Bermain/Recalling
·
Guru meminta siswa untuk
membereskan mainan dan alat yang dipakai
·
Guru meminta siswa menceritakan
pengalaman bermainnya sambil menghitung kegiatan yang dilakukan
·
Guru menutup kegiatan dengan doa
bersama
·
Guru membagikan buku komunikasi
sebelum pulang,
|
SEKILAS TENTANG
METODE PEMBELAJARAN
Dengan pendekatan
Beyond Centers
and Circle Time
(BCCT)
·
Yaitu konsep
belajar dimana guru-guru menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas dan mendororng
siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya
dalam kehidupan mereka sehari-hari
·
Hasilnya :
siswa memperoleh pengetahuan dan ketrampilan dari kontek yang terbatas, sedikit
demi sedikit, dan dari proses mencoba sendiri, sebagai bekal untuk memecahkan
masalah dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat sekarang dan kelak
Kenapa
menggunakan system BCCT ini ?
·
Anak akan
belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan ALAMIAH
·
Belajar akan
lebih bermakna jika anak MENGALAMI apa yang dipelajari bukan hanya sekedar
MENGETAHUI
·
Pembelajaran
akan lebih bermakna dan mengena
Apakah
system yang ada selama ini gagal?
·
Memang tidak
ekstrim begitu. Pembelajaran yang lebih berorientasi target penguasaan materi
terbukti berhasil dalam kompetisi MENGINGAT jangka pendek, tetapi gagal dalam
membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang. Bukankah
itu yang terjadi dalam kelas-kelas kita?
Apa
yang sebenarnya kita inginkan ?
·
Dalam
pendekatan BCCT proses pembelajaran diharapkan berlangsung alamiah dalam bentuk
kegiatan siswa bekerja mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke
siswa. STRATEGI pembelajaran lebih dipentingkan daripada HASIL.
·
Dalam kontek
itu, siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa
mereka, dan bagaimana mencapainya. Mereka sadar bahwa apa yang mereka pelajari
berguna bagi hidupnya nanti
·
Dengan begitu
mereka memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal untuk
hidupnya nanti, dalam hal ini diperlukan guru sebagai PENGARAH DAN
PEMBIMBING atau INSPIRATOR
Mengapa system ini menjadi pilihan?
·
Saat ini pendidikan
masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta
yang harus dihafal. Guru masih menjadi center (pengetahuan dan
lain-lain), ceramah menjadi pilihan utama strategi belajar.
·
Nah sekarang
diperlukan strategi belajar baru yang lebih memberdayakan siswa. Sebuah
strategi belajar yang tidak mengharuskan siswa menghafal fakta-fakta, namun
bagaimana mendorong siswa membangun pengetahuan dibenak mereka sendiri
·
BCCT belajar
mengalami bukan menghafal.
Kebiasaan apa yang ingin dipeerbaiki?
·
Sudah cukup
lama kita sadar bahwa kelas-kelas kita tidak produktif. Sehari-hari kelas diisi
dengan ceramah, sementara siswa DIPAKSA menerima dan menghafal
·
Pilihannya
adalah strategi pembelajaran yang memberdayakan siswa
Apakah
landasan filosofi pengembangan BCCT itu?
·
Landasan
filosofi BCCT adalah KONSTRUKTIVISME, yakni filosofi belajar yang
menekankan bahwa belajar tidak sekedar menghafal. Siswa harus mengkonstruksikan
pengetahuan dibenak mereka sendiri. Bahwa pengetahuan tidak bisa
dipisah-pisahkan menjadi fakta yang terpisah, namun mencerminkan keterampilan
yang dapat diterapkan .
Trend
belajar yang bagaimana yang melandasi system ini?
·
Belajar tidak
sekedar menghafal, siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka
·
Anak belajar
dari mengetahui, mencatat sendiri pola-pola bermakna dari pengetahuan baru dan
bukan diberi begitu saja oleh guru
·
Pengetahuan
tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta atau proposisi yang terpisah, tetapi
menceerminkan keterampilan yang dapat diterapkan
·
Siswa perlu
dibiasakan memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya dan
bergelut dengan ide-ide.
·
Keterampilan
dan pengtahuan itu diperluas dari kontek yang terbatas (sempit) sedikit demi
sedikit.
·
Penting bagi
siswa tahu UNTUK APA dia belajar, dan BAGAIMANA ia menggunakan
pengetahuan dan keterampilannya itu
·
Tugas guru MEMFASILITASI
agar informasi yang baru menjadi bermakna, memberi kesempatan kepada siswa
untuk menemukan untuk menerpakan ide mereka sendiri, dan menyadarkan siswa
untuk menerapkan cara mereka sendiri.
·
Pengajaran
harus berpusat BAGAIMAN CARA siswa menggunakan pengetahuan baru mereka. STRATEGI
BELAJAR lebih dipentingkan daripada hasilnya.
Apakah BCCT ini baru?
·
Bukan. Filosofi
yang mendasari pendekatan ini sudah dikembangkan oleh CCCRT (Creative Center
for Childhood Research and Training)
Dari
mana asalnya dan siapa yang mengembangkannya?
·
BCCT
dikembangkan oleh CCCRT (Creative Center for Childhood Research and Training)
Florida, USA dan dilaksanakan di Creative Pre School Florida, USA selama lebih
dari 25 tahun, baik untuk anak normal maupun untuk anak yang berkebutuhan
khusus.
Komponen apa saja yang dilibatkan ?
·
Konstruktivisme-bertanya-menemukan-
masyarakat belajar-pemodelan-refleksi-penilaian sebenarnya.
Apa MOTTO nya?
·
Student learn
best by actively constructing their own understanding
(cara belajar terbaik adalah siswa mengkonstruksikan sendiri
pengalamannya)
Cara belajar apa yang berasosiasi dengan BCCT?
·
CBSA-Pendekatan
Proses-Life Skill Education-Authentic Instruction-Inquiry Based Learning
Apa Beda BCCT Dengan KBK,
CBSA, Pendekatan Proses, Quantum
Learning, Student Active Learning, Meaningful Learning, Problem Based Learning,
Cooperative Learning, Work Basaed Learning, Dan Sejenisnya?
·
JIWA dari
pendekatan-pendekatan itu sebenarnya sama dengan BCCT, yakni bagaimana
menghidupkan kelas.kelas yang hidup adalah kelas yang memberdayakan siswa atau
berfokus pada siswa, yakni kelas yang produktif dan meyenangkan. Bedanya pada
aspek penekanannya.
Bagaiman prakteknya di kelas?
·
Kelas dirancang
dalam bentuk sentra-sentra, misal : Sentra Alam,
Sentra Persiapan, Sentra keaksaraan, Sentra Bermain Peran, Sentra Balok dan
lain-lain
·
1 guru
bertanggung jawab pada 7- 12 siswa saja
dengan moving class dari satu sentra ke sentra lain
·
Kembangkan
pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara anak bekerja
sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan
keterampilan barunya
·
Laksanakan
sejauh mungkin untuk kegiatan inquiry untuk semua topic
·
Kembangkan
sifat ingin tahu siswa dengan bertanya
·
Ciptakan
masyarakat belajar (belajar dalam kelompok)
·
Hadirkan model
sebagai contoh pembelajaran
·
Lakukan
pijakan-pijakan
·
Lakukan
refleksi diakhir pertemuan
·
Lakukan
penilaian sebenarnya dengan berbagai cara.
Bagaimana cirri kelas yang menggunakan BCCT ini?
·
Terjalin
kerjasama-Saling menunjang- gembira- Belajar dengan bergairah
·
Pembelajaran
terintegrasi-Menggunakan berbagai sumber- Siswa aktif
·
Menyenangkan
tidak membosankan-terjalin sharing dengan teman
·
Para siswa
kritis- Guru Kreatif
Apakah
BCCT hanya bisa diterapkan di kelas kecil saja?
·
Tidak
·
Karena BCCT
hanya strategi belajar
·
BCCT sangat sesuai dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)
Apakah selam ini guru belum menerapkan BCCT?
·
Tergantung
·
Bagaiman
kondisinya selama ini apakah polanya Studen Centered/ Teacher Centered
Apakah penerapan BCCT memerlukan biaya besar dan media khusus?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar